Translate

Kamis, 23 Juli 2015

Kita pegang kendali terhadap kesehatan kita sendiri

liburan Lebaran adalah saat yang tepat untuk bertemu dengan saudara di kampung halaman. Setelah 1 tahun penuh disibukkan dengan pekerjaan rutin masing-masing, selama 1 minggu rehat sejenak dan memanjakan ngobrol dengan kerabat masa kecil. Dari obrolan tersebut beberapa memiliki keluhan penyakit yang tidak ringan dengan implikasi yang sangat berat terhadap tubuh apabila tidak dikontrol dengan serius.

Salah satunya Sepupu saya sebutlah namanya Budi memiliki keluhan hipertensi mencapai 195 / 110 dan juga kadar gula yang sangat tinggi. Setelah mengetahui penyakit tersebut pola makan agak berubah dengan mengurangi nasi dan menganti dengan kentang rebus. Tetapi itu tidak bertahan lama karena ketika kondisi membaik pola makan lama kembali diulang. Makan makanan yang dianggap normal kembali dilakukan dan merokok jalan terus. Ada juga suami sepupu memiliki penyakit diabetes juga sampai sulit sembuh ketika ada luka. Tetapi yang ini sangat membandel dalam mengontrol makanan yang dimakan karena semua harus di kontrol dibawa pengawasan sang istri. Pakde juga memiliki hipertensi sangat tinggi mencapai 220/110, dan hanya ketergantungan dengan obat dalam mengontrol hipertensinya.

Dari beberapa kasus tersebut diatas merupakan contoh bagi orang yang tidak peduli terhadap kesehatannya. Bagaimana mereka tidak intropeksi terhadap makanan yang masuk selama ini dan mengakibatkan penyakit yang timbul saat ini. Dan yang paling penting adalah mereka tidak mau merubah pola makan untuk mendapatkan kesehatan yang lebih baik dikemudian hari. Makanan yang digoreng, gula yang tidak dikontrol masuk tubuh dalam bentuk nasi, mie, tepung, minuman manis, kue yang manis manis memberikan kontribusi terbesar dalam penyakit penyakit yang timbul.

Kalau mau sehat dan hidup berkualitas saat ini dan masa tua , mulai saat ini kita rubah pola makan yang sehat dan gizi seimbang. Kita perbanyak makan sayuran, buah, dan kurangi secara signifikan makanan berlemak, gula, dsb. Kita harus menjadi pemegang kendali terhadap kesehatan kita sendiri, bukan dokter, bukan istri , bukan suami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar